Sidang Kasus Jessica Hari Ini Sidang ke-25 -->

Advertisement

Sidang Kasus Jessica Hari Ini Sidang ke-25

Admin
Senin, 26 September 2016
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

Jakarta - Prof Dr Mudzakir, ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, didaulat menjadi saksi ahli terakhir yang dihadirkan kubu terdakwa Jessica Kumala Wongso, di sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin.

Pada sidang ke-25 hari ini, Mudzakir beranggapan barang bukti kopi bersianida yang diduga membunuh Wayan Mirna Salihin, sudah tidak orisinal.


Dalam pelaksanaan persidangan lanjutan "Kopi Sianida" yang telah memasuki episode yang ke 25 tersebut kembali menghadirkan seorang ahli Hukum Pidana yaitu Prof. Dr. Mudzakir, yang belakangan diketahui sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), saat ini dirinya  bekerja sebagai seorang dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Sebelum pelaksanaan persidangan dimulai, Ketua Majelis Hakim yang memimpin persidangan yaitu Kisworo S.H. mengatakan "sebelum saudara bersaksi di dalam persidangan, apakah saudara saksi bersedia untuk diambil sumpahnya sesuai dengan agama dan keyakinan saudara ?" katanya di dalam ruangan persidangan, Senin (27/9/2016).
"Yang Mulia Ketua Majelis Hakim, saya bersedia disumpah sesuai dengan agama dan keyakinan saya yaitu secara Islam sebelum saya bersaksi dan memberikan keterangan dalam persidangan di PN Jakarta Pusat" demikian dikatakan Mudzakir di dalam ruang sidang PN Jakarta.
 
Pernyataan itu menjawab pertanyaan pengacara Jessica, Otto Hasibuan, saat menanyakan orisinalitas dari barang bukti kopi bersianida. Kopi tersebut memang diketahui dipindahkan dari gelas ke botol oleh penyidik saat peristiwa berlangsung.

"Iya berita acara jadi kunci. Di situ juga harus ada saksi. Pemilik tanda tangan di situ. Tapi kalau misalnya sudah dipindah-pindah orang, tidak ada jaminan originalitasnya. Untuk kepentingan pembuktian kan sidik jari siapa yang melekat di situ," ujar Mudzakir di PN Jakarta Pusat, Senin (26/9/2016).

Bukan tanpa alasan Mudzakir memaparkan pandangan tersebut. Bermodal Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2009 yang juga ditampilkan di layar ruang persidangan, Mudzakir juga menjelaskan bahwa seyogyanya petugas harus menjaga orisinalitas barang bukti yang diamankan.

"Prinsipnya kalau ada bukti, langsung ke lokasi mengamankan objek itu. Jangan sampai ada tangan orang mengubah memegang barang itu," kata pakar hukum pidana UII ini.