Pengalaman Menulis di Hipwee dan IDNTimes. Cerita Penulis Labil yang Mencari Kenyamanan di Platform Online -->

Advertisement

Pengalaman Menulis di Hipwee dan IDNTimes. Cerita Penulis Labil yang Mencari Kenyamanan di Platform Online

Senin, 13 Maret 2017
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork




Baru-baru ini saya galau sekali memikirikan kemana saya harus meluapkan rutinitas menulis saya. Biasanya saya menulis di caption Instagram. Walaupun hanya sebatas lapak caption Instagram, saya cukup serius menulis dan mengkonsepnya. Alasannya sederhana, karena gampang dan teman-teman saya banyak di sana. Feedback dan tujuan dari pesannya saya tahu akan tersampaikan. Tidak ada kepuasan yang lebih bikin bahagia selain banyaknya pembaca. Makanya juga sudah setahun ini saya cukup rajin mengirimkan tulisan ke dua platform bernama Hipwee dan IDNTimes.
Berulang kali saya ditanya apakah dibayar di sana. Tidak! Karena hitungannya adalah kita ini hanya community writer. Namun demikian, ada banyak sekali yang berlomba-lomba mengirimkan tulisan ke sana. Apalagi kalau bukan untuk menarik pembaca dan berharap konten yang dibuatnya viral. Ada jutaan pengunjung di sana dan kesempatan tulisan kita dibaca adalah begitu besar. Sekali waktu, saya pernah berhasil membuat tulisan yang view-nya mencapai 12.421 views selagi tulisan ini saya buat. Itu adalah tulisan pertama saya di IDNTimes yang membuat saya begitu bersemangat untuk mengirimkan yang lainnya.
Awalnya, semangat saya mengirimkan tulisan tidak mengendur. Sampai akhirnya tulisan saya bertengger begitu lama di pending menu dashboard akun IDNTimes saya. Tidak ada kabar, tidak ada pemberitahuan. Sepanjang 2018, tidak ada tulisan saya yang berhasil tembus ke sana. IDNTimes ini sepertinya banyak bekerjasama dengan media-media lainnya. Terbukti tulisan saya pernah masuk ke Line Today dan Rappler. Walaupun kadang yang dicatut bukanlah nama saya melainkan IDNTimes.
Beberapa hari yang lalu saya kembali mengirimkan artikel ke IDNTimes. Sampai postingan ini saya buat, tiga hari sudah tulisan saya masuk ke menu pending review, begitu juga dengan satu tulisan saya di bulan Maret 2017 masih berstatus in-review.

Sebagai penulis, saya lebih lega jika benar-benar ditolak daripada statusnya begitu. Ya ibarat cinta digantung dan di-PHP-in. Ngga nyaman. Dari FAQ yang pernah saya baca, IDNTimes mengatakan jika waktu tunggu untuk satu tulisan akan diterbitkan adalah 2 minggu. Tapi lagi-lagi pengalaman saya, biasanya pagi submit, sore atau besoknya udah ada di website-nya. Jadi menurut saya, sudah lebih tiga hari itu tandanya tidak perlu menunggu lagi xD
Dalam hal info perkembangan tulisan sudah sejauh mana, Hipwee lebih unggul. Mereka akan mengirimkan email apabila tulisan kita dimuat dan ditolak karena apa. Dan menurut pengalaman saya, IDNTimes lebih ketat dalam menyeleksi tulisannya. Entah mungkin memang tulisan saya memburuk atau ngga sesuai dengan target pembacanya. Sedih sudah pasti. Karena setiap menulis konten, saya akan mencari ke sana-sini apakah berita yang saya sampaikan benar. Saya juga jadi familiar sekali dengan KBBI untuk mengecek sejumlah kata. Lebih dari satu jam saya butuhkan untuk memastikan ini-itu sampai submitting to editor.

Lalu, artikel seperti apa yang mereka cari? Detilnya sebenarnya sudah ada di tiap-tiap media. Mereka pasti akan menyesuaikan konten dengan target pembaca. Nah! Di sinilah pertanyaan saya muncul. Sama seperti acara di televisi, sebenarnya siapa yang paling bertanggung jawab terhadap konten yang disediakan? Produsen atau konsumen? Ada timbal balik yang cukup besar di sini. Apakah pembaca/penonton jadi terbiasa dengan pembahasan ringan sampai yang cenderung berat ditinggalkan? Atau karena konsumen meminta, jadi produsen menyediakan media. Atau mungkin ya karena memang artikel atau tontonan itu dianggap hanya hiburan. Jenis artikel yang paling laris di media-media sejenis yang saya sebutkan di atas adalah misalnya: tipe-tipe pria romantis menurut zodiak, gaya pacaran artis A dan Z yang bikin gemes, perbedaan jenis penampilan anak artis A dan artis B yang kece abis dan banyak lainnya.
Akhirnya saya jadi mikir, apakah saya masih akan mengirimkan tulisan ke media-media sejenis? Kemungkinan besar iya. Namun, harapan tidak akan saya letakkan begitu dalam lagi. Kelebihan apa yang saya dapatkan dari dimuat di media-media tersebut selain kemungkinan dibaca ribuan orang (yang tidak bisa saya tampik, sangat-sangat menggiurkan), popularitas dan kebanggaan? Beberapa ada yang menyediakan point untuk bisa ditukar dengan uang, tapi nominalnya kecil sekali. Kecuali kita mau menulis sesuatu yang berbuah viral dan kunjungan puluhan ribu.
Tidak mendapat kabar apa-apa itu cukup menyedihkan ketika waktu dan usaha sudah kita curahkan. Bisa jadi memang bentuk tulisan saya yang ngga berbobot atau apalah alasan lainnya. Tapi penulis juga butuh penghargaan untuk karyanya. Lalu beberapa blogger menyarankan saya untuk kembali menghidupkan blog saya yang sudah lama sunyi sepi sendiri. Ini adalah opsi yang akan saya jalankan. Hanya saja, mungkin konsepnya akan berubah. Kalau dulu lebih ke fashion blogging, sekarang sudah tak sanggup lagi. Kegiatan dan aktivitas saya sekarang kurang memungkinkan untuk rajin posting ootd. Untuk sekarang, tulisan saya lebih cenderung bercerita tentang life and wellness.
Tentang Steemit ini sendiri, jujur saya masih meraba-raba dan newbie walaupun akunnya sudah cukup lama saya punya. Orang-orang di sekitar saya adalah steemian aktif seperti Kak @rahmanovic. Malah @akbarrafs dan @fararizky baru saja tadi pagi komentarin saya untuk nulis di Steemit. Ini aja wondering, kira-kira notifikasi masuk ngga ke mereka dengan mentioning their accounts’ names. Hahahha ~ Menu-menu dan istilah-istilah di dalamnya juga masih awam sekali di telinga saya. Maafkan T_T
Di Steemit juga saya merasa agak kesepian secara virtual. Belum punya ‘teman’. Wajar sih sebenarnya karena saya tidak pernah lama nongkrong di sini. Jawaban untuk membuat jaringan dan pertemanan online juga lebih dan kurang saya sebenarnya juga tahu, blogwalking. Apalagi siapalah saya ini yang apalah-apalah secara tiba-tiba akan mendatangkan pembaca. Hehehe ~ Memang sudah hukumnya dunia blogging, tidak bergaul dan tidak rajin berkunjung,akan susah juga dapat balasan yang sama. Takjub juga melihat perkembangan Steemit di Indonesia terutama di Aceh yang ramai. Komunitas ini juga memiliki reputasi yang baik dan positif. Juga raaaaajin sekali mengajak teman-temannya untuk ikut bergabung entah di dunia offline dan online. Nanti kapan-kapan semoga saya bisa ikut ya, walaupun agak-agak segan juga, anak baruuuuuuuuuuu hahaha ~
But well, let see dimana kelabilan saya berakhir :)