Ridwan Kamil Mengimbau Masyarakat, Tidak Menolak Pemakaman Jenazah -->

Advertisement

Ridwan Kamil Mengimbau Masyarakat, Tidak Menolak Pemakaman Jenazah

Minggu, 26 April 2020
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork

OKEZONE.asia - Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil memastikan, perlakuan jenazah kasus Coronavirus disease (Covid-19) di Jabar hingga proses pemakaman sudah sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Maka dari itu, pria yang akrab disapa Emil itu mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak menolak pemakaman jenazah pasien Covid-19 di lingkungannya, karena segala prosesnya diyakini aman dan tidak akan menimbulkan persoalan.

Saya mendengar ada beberapa berita pemakaman pasien-pasien Covid-19 ini ditolak masyarakat dengan alasan takut virusnya menular. Itu (virus menular) tidak benar,” kata Emil saat konperensi pers di Gedung Pakuan, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Jumat (3/4/2020).

Emil menuturkan, virus tersebut mati pada saat ini jenazah yang terinfeksi meninggal dunia. Rumah sakit pun sudah melakukan prosedur yang disarankan oleh WHO, sehingga sudah sangat-sangat aman.

Orang nomor satu di Jabar itu mengajak masyarakat berempati kepada keluarga korban Covid-19 dan tidak memberikan stigma yang akan memperdalam luka serta kesedihan. Dengan begitu, penolakan pemakaman jenazah Covid-19 tidak akan terulang.

“Kita harus punya rasa yang toleran, dan jangan menambah luka dengan stigma. Mereka sudah kehilangan, mereka butuh dukungan, butuh dikuatkan. Mari kedepankan rasa kemanusiaan, dengan merasakan apa yang orang lain rasakan,” imbaunya.

Prinsip utama pemulasaran jenazah Covid-19 di Jabar adalah menghormati jenazah dan melindungi diri serta lingkungan dari infeksi. Dari prinsip tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar menetapkan ketentuan umum pemulasaran jenazah infeksius, khususnya jenazah Covid-19.

Pertama, memastikan jenazah sudah didiamkan selama lebih dari dua jam sebelum dilakukan perawatan jenazah. Kemudian, menerapkan kewaspadaan standar yakni memperlakukan semua jenis cairan dan jaringan tubuh jenazah sebagai bahan yang menular dengan cara menghindari kontak langsung.

“Tidak mengabaikan etika, budaya, dan agama yang dianut jenazah. Lalu, semua lubang-lubang tubuh ditutup dengan kasa absorben dan diplester kedap air. Petugas harus memastikan badan jenazah bersih dan kering,” kata Kepala Dinkes Jabar, Berli Hamdani menambahkan.

Petugas maupun keluarga jenazah yang ikut mengurus jenazah, kata Berli, harus mengikuti prosedur seperti menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mencegah penularan.

“Setelah dimandikan dan dikafani atau diberi pakaian, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau dibungkus dengan plastik dan diikat rapat. Jika diperlukan pemetian, maka peti jenazah ditutup rapat,” terangnya.

Kemudian, lanjut dia, pinggiran peti disegel dan dipaku atau disekrup sebanyak 4 sampai 6 titik. Peti jenazah yang terbuat dari kayu harus kuat, rapat, dan ketebalan peti minimal 3 centimeter.

Desinfeksi lingkungan pun akan dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan. Alat medis, tempat persemayaman, sampai ambulans yang digunakan mengantar jenazah ke rumah duka dan makam akan disemprot desinfektan.

“Sesudah proses pemakaman selesai, keluarga dan pelayat harus menerapkan protokol kedatangan sampai di rumah, seperti mencuci tangan sesuai prosedur WHO, segera mandi, dan tidak menyentuh barang apapun di rumah,” jelasnya.***